Perkembangan teknologi saat ini demikian pesat. Seiring dengan itu, penggunaan gadget pun meningkat. Tidak hanya orang dewasa, kini tak sedikit anak-anak yang sudah mulai mengenal, bahkan mahir mengoperasikan gadget.

Bak pisau yang memiliki dua sisi, keberadaan gadget membawa kebaikan sekaligus dampak negatif. Terutama pada anak. Dokter anak asal Amerika Serikat Cris Rowan menegaskan, harus ada pelarangan penggunaan gadget pada anak berusia di bawah 12 tahun. Sebab, tak sedikit penelitian yang membuktikan, gadget lebih banyak membawa dampak negatif ketimbang manfaat bagi anak.

Asosiasi dokter anak Amerika Serikat dan Kanada menekankan, orangtua harus tegas tidak memberikan gadget pada anak usia 0-2 tahun. Anak 3-5 tahun dibatasi satu jam per hari, dan dua jam untuk anak 6-18 tahun.

Sayangnya, kenyataan yang terjadi berbeda. Anak-anak justru menggunakan gadget empat hingga lima kali melebihi durasi yang direkomendasikan ahli.

Psikolog anak Anna Surti Ariani mengatakan, jika seorang anak terlalu sering bermain gadget, akan menurunkan wawasan dan kecerdasan anak.

“Seorang anak membutuhkan wawasan yang konkret di dunia ini,” kata psikolog yang akrab disapa Nina saat ditemui Metrotvnews.com di Klinik Terpadu Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat.

Senada, dr Setyo Handryastuti, Sp.A(K) mengatakan, ketidaksetujuan jika orangtua sudah mulai memberikan sebuah gadget kepada anak-anak, khususnya balita. Menurutnya, gadget bukanlah salah satu media yang tepat dijadikan untuk sarana bermain anak.

Jika seorang anak terlalu sering bermain gadget, akan menurunkan wawasan dan kecerdasan anak.

Anna Surti Ariani, SPsi., MSi., Psi

“Kalau saya pribadi tidak menganjurkan. Maksud saya, gadget itu bukan mainan anak kecil, terlebih balita, walaupun guna gadget itu untuk mengisi waktu senggang,” katanya kepada Metrotvnews.com.

Menurutnya, tujuan orangtua memperkenalkan dan memberikan gadget semenjak dini tidak salah, yaitu untuk memberikan sarana bermain dan membuat anak melek teknologi. Melalui gadget, anak-anak bisa bermain berbagai macam permainan dengan menggunakan media yang sama. Namun, lanjut Setyo Handryastuti, orangtua kurang menyadari efek yang yang akan ditimbulkan.

Dokter spesialis Neurulogi anak ini mengungkapkan, tidak sedikit orangtua mengeluhkan kondisi yang dialami anaknya akibat penggunaan gadget secara berlebihan: dari sakit kepala hingga kelainan mata.

“Keluhan anak matanya pegal atau ada juga gangguan neurologis seperti simple motorik. Matanya kedip-kedip terus yang diakibatkan melihat atau membaca sesuatu yang kecil. Matanya lelah, sehingga akhirnya timbul gangguan simple motorik,” kata dia.

Selain itu, hingga saat ini, belum ada penelitian yang menyebutkan durasi aman anak menggunakan gadget. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan peran orangtua untuk mengawasi dan membatasi lamanya buah hati memainkan gadget.

 
Anak Bisa Kecanduan, Kenali Gejalanya

Kecanduan anak terhadap gadget dapat menurunkan tingkat kebahagiaannya karena kebahagiaannya hanya sebatas pada gadget saja. Selain itu, dalam banyak kasus, anak menjadi mudah emosional. Hal ini dapat dilihat ketika baterai gadget tersebut habis atau tidak mendapat sinyal, maka anak akan cenderung marah.

Jika orangtua tak teliti, anak juga berisiko terpapar game yang mengandung agresivitas atau pornografi pada gadget. Bukan tak mungkin, hal itu bisa menjadi referensi di kehidupan nyata. “Contohnya, jika ada yang tidak sengaja menyenggol anak itu, maka anak itu akan membalasnya lagi. Karena referensi yang dia dapatkan, jika kamu disenggol, maka segeralah melawan,” kata Nina.

Game yang sifatnya mengandung agresivitas atau pornografi bisa menjadi referensi bagi anak untuk menerapkannya di kehidupan nyata.

Jika digunakan secara tepat, selain untuk memudahkan komunikasi, gadget sebenarnya berguna sebagai sarana hiburan, bahkan mampu menghasilkan uang. Namun, penggunaan gadget secara berlebihan juga dapat memberikan kerugian bagi penggunanya, termasuk anak-anak.

Menurut Dokter (dr) Setyo Handryastuti, Sp.A(K), berikut dampak postif dan negatif gadget terhadap anak.

Dampak Negatif
Gadget Bisa Postif Jika Dosisnya Tepat

Dokter Setyo Handryastuti, Sp.A(K) menjelaskan, gadget juga dapat berdampak positif kepada anak. Hal itu bisa terjadi jika orangtua dengan bijak dapat mendampingi anak menggunakan gadget.

Gadget dapat menjadi sarana pembelajaran yang mudah bagi anak. Dengan menggunakan gadget, orangtua bisa menampilkan berbagai informasi yang dibutuhkan anak dengan mudah.

Seperti mengajarkan tentang warna, angka, huruf, hewan, tumbuhan, dan berbagai informasi tentang lingkungan. Pada gilirannya, saat anak mulai bergaul dengan lingkungan sekitarnya, buah hati kita tidak kaget dan dapat menyesuaikan diri dengan cepat.

Terapi dan Orangtua

Kecanduan anak terhadap gadget sebenarnya bisa dihilangkan tanpa terapi atau pengobatan khusus. Orangtua bisa menjadi obat dan terapi yang baik buat anak untuk menghilangkan ketergantungan terhadap gadget.

Terapi pertama dimulai dalam diri orangtua, bahwa memperkenalkan gadget kepada anak sejak usia dini adalah hal yang salah. Setyo Handryastuti, Sp.A(K) mengatakan, waktu yang tepat anak diberikan gadget adalah saat dia memasuki Sekolah Menengah Atas (SMA). Hal itu karena anak sudah mempunyai tanggung jawab dan membedakan waktu untuk bermain dan belajar.

Waktu yang tepat anak diberikan gadget adalah saat dia memasuki Sekolah Menengah Atas (SMA).

Setyo Handryastuti, Sp.A(K)

Jika orangtua sudah menyadari hal tersebut, mengurangi kecanduan anak terhadap gadget bisa dilakukan secara perlahan. Salah satunya dengan cara memberikan alternatif permainan lain yang dapat mengalihkan perhatian anak dari gadget.

“Jangan dilarang main gadget tapi enggak dikasih permainan lain, jadi anak akan bosan. Jadi harus dicari permainan yang mengasyikkan yang bisa mengalihkan perhatian anak dari gadget. Itu untuk anak balita,” kata Setyo Handryastuti.

Selain itu, orangtua juga harus membuat komitmen dengan tidak menggunakan gadget di depan anak. Menemani anak bermain lebih baik dari waktu Anda dihabiskan memainkan gadget saat di rumah.

Orangtua juga harus membuat komitmen dengan tidak menggunakan gadget di depan anak.

“Jangan kita melarang anak menggunakan gadget, tapi gadget enggak lepas dari tangan. Bentar-bantar update status, bentar-bentar lihat WhatsApp. Kalau sudah di rumah, kita harus menyediakan waktu untuk anak full untuk bermain,” ujar dia.

Psikolog Anna Surti Ariani alias Nina, menambahkan, dirinya tidak menganjurkan orangtua untuk membawa anaknya melakukan terapi jika belum terkena efek yang parah dari penggunaan gadget. Sebab menurutnya, orangtua bisa menyembuhkan anaknya dengan membawa anaknya melakukan berbagai macam aktivitas di lingkungannya. Nina menekankan, ini adalah tantangan bagi orangtua zaman sekarang.

Apabila orangtua tetap ingin membawa anaknya terapi, itu tidak masalah, asalkan orangtua juga mau terlibat dalam penanganan penggunaan gadget yang dinilai lebih efektif. Sebab percuma jika orangtua menyerahkan sepenuhnya kepada psikolog, ketika anaknya sudah mau berubah namun lingkungan rumah malah akan memperburuk lagi perilaku anaknya.

“Akan jauh lebih baik ketika orangtua mendapatkan terapi atau minimal mendapatkan konsultasi untuk apa yang harus diubah di rumah,” katanya.

Cara Pemberian Gadget untuk Anak

Orangtua harus membatasi durasi anak ketika mengakses gadget. Untuk anak berumur di bawah dua tahun, tidak perlu, bahkan tidak diperbolehkan bermain dengan gadget atau teknologi berlayar dalam bentuk lainnya seperti tablet, laptop, dan TV. Untuk anak yang berumur dua sampai enam tahun, disarankan maksimal selama satu jam.

“Kalau di atas enam tahun, maksimal dua jam sehari, tapi kadang anak harus menggunakannya lebih dari dua jam karena banyak tugasnya yang harus diselesaikan sehingga harus lebih lama lagi depan laptop atau dia (anak) harus mencari informasi yang mudah ia dapatkan dia gadget. Tapi dua jam bukan berarti harus selamanya jam lima sampai jam enam, tapi bisa dipecah pecah, seperti 15 menit saat ini, siangnya 15 menit, sorenya 15 menit dan malamnya 15 menit gitu. Pada saat tidak gunakan gadget itu ngapain? Sebenarnya itu juga merupakan kewajiban bagi orangtua untuk mencarikan aktivitas lain untuk isi waktu anak dengan banyak aktivitas,” tutur psikolog Anna Surti Ariani atau akrab disapa Nina.

 

Sebaiknya orangtua membuat perjanjian dengan anak sebelum mengizinkannya bermain gadget.

Setyo Handryastuti, Sp.A(K)

Nina mengingatkan, penggunaan gadget harus dicermati pemakaiannya jangan sampai berlebihan. Dia meminta kepada orangtua agar tegas dan konsisten dalam membatasi anak bermain gadget. Dalam pengawasan ini, sebaiknya orangtua membuat perjanjian dulu dengan anaknya sebelum mengizinkannya bermain gadget. Setelah sepakat, maka anak tersebut baru diperbolehkan untuk bermain gadget.

“Contohnya, oke kamu boleh memainkannya sampai baterainya habis atau kamu boleh memainkannya sampai jam sekian atau kamu boleh memainkan selama dua level dalam main game. Nah perjanjian itu harus dipegang oleh orangtua, kalau sudah dijanjikan seperti itu maka harus dipegang oleh orangtua,” imbuhnya.

Ketika waktu bermain gadget sudah mulai habis, orangtua langsung mengingatkan anaknya agar anak tersebut harus menepati perjanjian yang sudah ditetapkan diawal.

“Orangtua bisa mengingatkannya lagi, ‘nak bentar lagi sudah mau selesai maka nanti akan mama ambil lagi gadetnya’ dan ketika suda 15 menit lagi katakan ‘maafkan nak, mama akan ambil lagi gadget kamu’ kalau sudah disepakati sebelumnya maka harus dilaksanakan,” ucapnya dengan nada lembut.

 

Namun, kendala terbesar yang dihadapi orangtua setelah itu, ketika anaknya mulai rewel, bahkan mengamuk sambil berguling-guling di lantai atau melempar benda-benda yang berada di dekatnya.

Dalam banyak kasus, sayangnya, orangtua langsung luluh karena tidak ingin anaknya merasa sedih dengan membiarkan anaknya terus bermain gadget. Jika gadgetnya mati, orangtua langsung memberikan power bank agar anaknya bisa tenang.

Sikap seperti inilah yang patut disayangkan, menurut Nina. Tips dari Nina, ketika anak mulai menangis, sebaiknya orangtua memikirkan lagi dampak buruk yang sifatnya jangka panjang bagi perkembangan anaknya, bukan hanya dampak jangka pendek saja.

“Mendingan anaknya nangis tidak dapat gadget atau anaknya nangis mendapatkan pengaruh buruk dari gadget yang mana itu akan terjadi sekian tahun mendatang jika terus-menerus dibiarkan,” paparnya.

Mencegah dan Mengatasi Kecanduan Gadget

Mengatasi anak yang kecanduan gadget merupakan tantangan bagi orangtua. Nina sendiri menekankan pentingnya pengawasan orangtua. “Jangan biarkan anak anda bermain di kamarnya atau menaruh komputer dan TV di kamarnya agar bisa diawasi apa yang sedang ditonton atau game yang sedang dimainkan,” kata Nina yang selalu murah senyum.

Survey

Kami telah melakukan survei kecil-kecilan terhadap 10 responden.
Kesimpulan yang didapat:

content ipad